Showing posts with label travel note. Show all posts
Showing posts with label travel note. Show all posts

Tuesday, January 8, 2013

becak. a romantic ride

ilyapan.wordpress @Yudi Tirtajaya image
Have you considering becak as the most romantic vehicle?
I did.
Imagine, you were on it, while the bapak pedal along the way, the winds touch your face softly and the sunlight burn your skin. The cars, the motorcycles speeds around you, but you, instead of join the rush, the bapak keep calm,  stay in the constant power, ride safely. You have all your time to wonder, to revalue all the thing you see. The people chats on the side of the road, the kids running and play, the couple holding hands. Happy, sad, confused, frustration, angry, shy faces who were scattered in the corner of the street. the colors of the building, Ain’t that sweet? Isn’t romantic? 

All those things that you wouldn't notice if you were trapped in the crowded and heat of public bus, rush in your ride or even asleep in the comfort of your private car.
And that’s why i always love the becak. For sure i wont suggest it when you have to catch a flight, hurry for a emergency call although in some case the bapak can speed in terms of mengejar setoran, or for a fun action between them but that’s not an overall behave. More over, becak is an enviromental friendly vehicle, no need gasoline which means no pollution.
Ride the becak has always been joyful to me, there's a short movie played on the way ahead. i just have to sit, put my rayban on, take notice and enjoy the roll. Ain’t that cool, isn’t it romantic. 

januari 4,2013

Monday, January 7, 2013

sebuah perjalanan



Bus melaju perlahan, menjauhi terminal Giwangan, menembus hujan rintik yang segera menderas, meninggalkan hiruk pikuk kemeriahan penyambutan datangnya Tahun Baru yang bergema di seantero Yogya. Melankolik senja sudah hilang sejak tadi. Jauh. Mungkin sebelum senja itu datang.
Bukan waktu yang tepat sesungguhnya untuk menyambut tahun baru, karena bila menurut mauku, aku ingin menghabiskan malam ini bulan ini, tahun ini dengan bergelung dalam hangat rangkulan kekasihku di kamar kostku yang kecil di jantung Yogya.
Tetapi terkadang sebuah perjalanan memanggil pada waktu yang tidak sesuai, pada hari yang tidak direncanakan. Tidak memberikan pilihan. Aku hanya harus berada disana, esok hari, demi sebuah janji temu. Seperti mengikuti angin. Tanpa tahu apa yang akan terjadi. Angin. Aku si anak angin. Hanya mengalir, mengikuti hembusannya.
Dan disinilah aku, duduk menatap jalanan yang basah dan orang-orang yang entah sibuk dengan apa dari jendela bus yang akan membawaku ke Barat. 512 km, 13 jam perjalanan. Ke Jakarta.
Terkantuk-kantuk namun tidak rela terjaga, aku larut pada silau lampu-lampu mobil dan lagu-lagu kenangan yang di kumandangkan Grup Panbers dari speakers di dalam bus. Terasa terhibur, aku ikut bersenandung. Lumayan mengusir kebosanan. Tertidur, terjaga, tertidur lagi dan terjaga kembali. Entah berapa kali aku di permainkan waktu. Meski tidak menyukai kenyataan itu, aku hanya bisa duduk diam. Meringkuk kikuk, sedikit perlawanan  pada ketidak nyamanan malam dan perjalanan.
Matahari baru saja akan naik saat, bus akhirnya memasuki kabupaten Karawang Jawa Barat, sinar kemerahan yang mengintip menembus jendela bus, membangunkanku. Hujan sudah lama berakhir, entah dimana. Habis, tanpa jejak. Perjalanan sudah mendekati akhir. Geliat kesibukan orang-orang pinggiran Jakarta, sudah terasa. Tidak ada waktu bersantai. Hidup yang sangat keras, harus di perjuangkan.
Meski masih belum tahu apa yang akan Jakarta berikan padaku, tetapi setidaknya wajah-wajah yang ku jumpai pagi itu menularkan semangat padaku.
Matahari akan selalu bersinar pada waktunya. Meski hujan mendera, pada malam-malam yang panjang dan dingin.
Dan yang paling penting adalah, sebuah pertanda, bahwa di tahun yang baru ini, akan ada banyak perjalanan, ke tempat yang baru dan tidak aku kenal, serta tak terduga sekaIipun, akan ada langkah-langkah kecil dan besar yang akan mewarnai dan memberi arti pada hidup yang lebih baik.
Selamat datang tahun 2013. 
Januari 1,2013  

Friday, October 26, 2012

Tiga budha.


Sitisewu 29 september 2012
Sabtu, 07,01am


Hari sudah cukup sore ketika saya tiba di kompleks candi mendut. Matahari masih terang namun terasa perlahan turun. Bangunan candi tunggal disebuah tanah lapang menerbitkan sejumlah tanya. Segera saja saya melangkah ke loket diluar pagar, membayar tiket senilai 3300 rupiah dan melanjutkan penjelajahan secara lebih seksama *tsah.. Dari bawah pohon beringin besar di sisi barat candi saya duduk-duduk sejenak sambil memikirkan apa yang melatari pembangunan candi ini. Tidak jua menemukan jawaban, saya pun mendekat dan meniti tangga naik kedalam candi. Di dalam ruang candi yang bisa dikatakan besar, dengan langit-langit tinggi terdapat tiga patung budha yang duduk dalam posisi yang berbeda. Memasukinya, saya di sergap aura ketenangan yang kuat. Seperti memasuki suatu waktu yang berbeda. Terkesiap memandangi keagungan sang budha, saya lalu membakar sebatang hio dan memanjatkan sebuah doa akan kebahagian dan umur panjang. saya memang bukan penganut budha, tetapi entah mengapa terkadang saya merasa bahwa saya adalah pengikut sang bodhisatva.
Menurut bapak yang bertugas menjaga diruang dalam candi, hampir setiap hari, ada saja umat budha yang datang dan bersembahyang di sini. Dari aroma hio yang terus menerus di kaki sang budha, saya pun bisa menyimpulkan demikian. Apalagi, didepan candi, ada sebuah vihara yang tidak bisa dikatakan kecil, berisi sebuah patung budha berlapis emas yang sedang berbaring. Bisa di pastikan, memang saat ini,kompleks candi mendut lebih difungsikan sebagai tempat ibadah ketimbang borobudur. Dimana saat prosesi waisak pun, perjalanan akan di mulai dari candi mendut ini, kemudian berjalan ke utara ke candi pawon dan akan berakhir di candi borobudur.
Kompleks candi mendut ini memang sangat kecil bila dibandingkan dengan borobudur. Hanya butuh kurang dari lima menit untuk berjalan mengitarinya.namun bila kita membutuhkan kontemplasi, maka ketiga budha yang telah duduk diam dalam keagungan sejak ribuan tahun yang lalu, bisa jadi penenang yang dahsyat.  AIDA
                                                        ****

Oleh-oleh dari Kotagede Part 2 ~ Stories from behind the wall

Salim Silver Workshop


Stories from behind the wall

Selama ini saya hanya mengenal legenda perak kotagede dari media. Sebagai sentra kerajinan perak terbesar di indonesia dan sejumlah ironi dibaliknya.
Entah sejak kapan awal pasti kemasyhuran kotagede sebagai industri perak, dimana dari berbagai cerita dikatakan sejak masa pangeran senopati. Namun demikian, menurut Priyo Salim, pemilik Salim silver yang juga adalah seorang pemerhati dan pelestari kerajinan perak, hal tersebut agak meragukan. Hal ini dikatakannya, bukan tanpa alasan, dikarenakan tidak adanya manuskrip dan data kongkrit serta barang bukti kerajinan perak dari masa tersebut.
Bila mengacu pada data sejarah, pada masa pemerintahan  Verskuir, gubernur hindia belanda untuk daerah Ngajogjakarta tahun 1930an bersama dengan J.E Jasper, didasari etika sistem politik praktis bahwa perlunya pengembangan sosial ekonomi pada daerah jajahan maka dimulailah pembinaan dan pengelolaan kerajinan perak di Kotagede demi menyuplai kebutuhan konsumsi di negara belanda. Hal ini kian berkembang takkala madame verskuir yang mempunyai citarasa seni tinggi, berinisiatif memberikan sentuhan jawa pada setiap produk. Sehingga kemudian perak asal kotagede dikenal dengan cirinya sendiri. Dan itu eropa menjadi pasar utama kriya ini.
Berlanjut pada era kekuasaan soekarno dan seoharto, pemerintahan lalu menetapkap produk perak sebagai cinderamata kenegaraan, dengan mengorder secara besar-besaran, yang mana ini hal terbukti membantu para perajin. Kejayaan perak kotagede kian melanglang buana, hingga kemudian datang krisis moneter pertama pada tahun 1996.
Harga dolar yang dari 2900 naik menjadi 15000 membuat pemerintah menghentikan order mereka,daya beli pasar dalam negeri pun secara nyata menurun. Namun kontra positifnya karena harga perak yang tadinya 400ribu perkilo gram menjadi 3 juta rupiah, membuat harga jual yang naik untuk pasar luar malah menguntungkan.  Lalu datang krisis 98, yang mana berdampak pada semua sektor termasuk menutup pintu ekspor dari berbagai komoditas dalam negeri. Hal ini mau tidak mau, memberikan hantaman telak pada produk-produk kriya indonesia termasuk perak.
Hilangnya pasar berarti berhentinya produksi dan pengurangan tenaga kerja. Seperti yang di beberkan oleh bapak Priyo, bila sebelumnya, bengkel miliknya mempunyai 60 orang karyawan, saat ini tersisa setengahnya saja. Angka yang cukup drastis, walau secara terus terang pun pak Priyo mengakui Salim silver bisa bertahan karena dukungan pembeli tetapnya dari luar.
Lalu apa peran pemerintah dalam dalam membantu para perajin? “Pemerintah bukannya tidak memberikan bantuan, bantuan alat telah beberapa kali diberikan, demikian juga pembinaan dan pelatihan, tetapi masalah terbesarnya adalah pasar”. Jelas pak Priyo panjang. Beliau pun mengatakan telah beberapa kali di ajak berpameran oleh pihak yang berwenang, bahkan hingga keluar negeri, tetapi itu saja belum cukup, Tandasnya.
“Jadi bukan karena tidak adanya minat para generasi muda untuk meneruskan kriya ini ya pak?” saya mengemukakan opini menurut keterangan yang saya dapat dari berbagai media. “Tidak.” Jawab beliau dengan lugas. “Meski begitu, saya tidak heran bila masyakat di luar berpendapat seperti itu. Karena pada kenyataannya, citra yang dibentuk sedemikian itu.” 

Oleh-oleh dari Kotagede





Gerbang Kotagede



Bapak Priyo Salim
Gerbang selamat datang di sentra kerajinan perak kotagede menyambut saya, saat memasuki jalan kemasan. Inilah pusat kerajinan perak yang terkenal di seantero indonesia bahkan hingga ke mancanegara. toko-toko yang menjajakan hasil kerajinan perak ini, berderet sepanjang jalan, menggoda mata dengan etalase yang memajang berbagai pernik dan ornamen cantik.
Terus berjalan, naik turun menyusuri pedestrian yang cukup nyaman, saya mendapati banyak papan penanda yang bertuliskan “kerajinan perak” namun kaki saya terus saja melangkah, seraya mengamati jajaran showroom tersebut. Hingga kemudian saya sampai pada sebuah pertigaan yang cukup sempit, dengan sebuah rumah besar bercat biru disudut jalan.  Tampaknya rumah ini telah lama ditinggalkan penghuninya, namun kesan megah tidak hilang begitu saja meski dalam kondisi tak terawat. ada sedikit keraguan apakah harus berbelok ke kiri atau lurus saja. Akhirnya saya berbelok kekiri, dan menemukan perbedaan yang cukup signifikan dari ruas jalan kemasan. ruas
 Dari depan tampak seperti sebuah gang yang agak menakutkan, tidak tampak ada sesuatu dibalik tembok-tembok tinggi yang gelap dan muram itu, namun kemudian sebuah pintu yang terbuka, dengan papan nama salim silver, seperti menarik saya untuk melongok lebih dalam. Benar saja, rupanya itu ada bengkel kerja pengrajin perak. Tetap seperti yang saya cari.
Sebagaimana adat berkunjung dalam budaya timur, kita harus memperkenalkan diri pada sang empunya rumah dan meminta izin sebelum memasuki rumah. Saya bertanya pada beberapa perajin yang tampak sibuk. Dan mereka menyaranka saya untuk langsung menemui pemilik workshop tersebut.
proses kerja
Tidak butuh proses yang panjang, ibu maryati, mempersilahkan saya untuk melihat secara langsung namun mengingatkan bahwa ini sudah hampir pukul 4, jam kerja hampir selesai. Tanpa membuang-buang masa, saya segera kembali ke bengkel yang berada di sisi pintu masuk. Disini tampak setiap orang asyik dengan pekerjaan mereka masing-masing. Setelah mengambil beberapa photo dan mengamati kesibukan mereka, saya kembali ke kantor dan bertemu langsung dengan pewaris sekaligus pemilik usaha kerajinan salim silver ini.
Priyo Salim, demikian pria paruh baya ini memperkenalkan diri, seraya mempersilahkan saya duduk di sofa panjang berwarna krem di salah satu sudut ruang kantor. Pak Priyo lalu menjelaskan proses pembuatan sebuah perhiasan atau ornamen perak. Acir, atau  perak mentah dilebur dan dicampur dengan tembaga atau platina karena pada dasarnya, perak mentah terlalu lunak untuk dapat dibentuk. Lalu kemudian di bentuk menjadi bentuk lempengan atau plepet dan tali atau urut, menurut tevak atau tipis plepet dan besar atau kecil urut. Dari proses ini kemudian barulah bisa lakukan pembentukan perhiasan sesuai yang kita kehendaki.
Salah satu teknik membentuk perak disebut filigri yaitu tali perak dibentuk menurut pola dan disusun hingga membentuk rangkaian yang dikehendaki. Dari beragam bentuk filigri ini nanti bisa dikembangkan menjadi banyak ornamen yang indah seperti bunga, hewan, dan berbagai ragam lainnya, namun juga bisa dikombinasikan dengan hasil ukiran dan pahatan.
proses kerja
Proses yang dilalui memang bisa dikatakan rumit dan cukup panjang, butuh ketelatenan dan sentuhan seni. Tidak salah bila kemudian banyak yang terpesona dan jatuh cinta pada keindahan perak, termasuk saya :D hingga saat menyambangi showroom Salim Silver yang terletak di jalan kemasan, saya terpaksa harus menahan hati menyaksikan semua perhiasan yang begitu menggoda iman. Meski demikian akhirnya saya memutuskan menghadiahkan pada diri sendiri sebuah pin filigri dari tembaga, yang saya yakin sangat cantik disematkan pada baju bodo-baju tradisional orang bugis saat menghadiri sebuah pesta pernikahan. 

HANGOUT & PLAY


Sitisewu 25 September 2012
Selasa 12,07pm

pengenjung sebuah cafe yang asyik bermain kartu 


Selama berada di jogja ini, saya menyempatkan diri untuk hangout di tempat-tempat tongkrongan anak muda jogja yang cukup populer. Tentu saja saya menemui keadaan yang cukup semarak, tapi suasana santai sangat terasa.
Kedati demikian ada satu hal yang menjadi perhatian saya. Hampir disemua tempat-tempat gaul tersebut saya melihat sebuah keunikan. Orang-orang bermain kartu, ya kartu remi. Entah para lelaki atau para gadis-gadisnya.
Bagi saya, ini sungguh menerbitkan keheranan, karena di tempat asal saya, kartu remi, atau gaple hanya di mainkan di pos ronda, oleh para pria-pria sebagai permainan melewatkan waktu menanti pagi. Atau sebuah permainan yang kemudian di tunggangi oleh unsur strategi demi rupiah, dan digelar dalam ruang tertutup nan rahasia.
Mungkin secara umum, ini berarti hal yang sama. Tetapi ketika anak muda jogja memainkannya di cafe, yang selama ini saya tau punya kelas di mata sebagian orang, maka mau tidak mau membuat saya memaknainya secara berbeda. Sedemikian sempitkah ruang bermain mereka hingga merasa syah-syah saja membawanya ruang publik? Atau sedemikian luasnya mereka melihat ruang publik hingga bisa menerima segala bentuk permainan? Entahlah.. Saya hanya beropini, tanpa maksud menilai terlebih menjudge. Meski sejujurnya, kartu remi atau gaple, dimainkan dalam konteks apapun memang mengasyikkan. Hayuk.. Di bagi kartunya.. ☺      AIDA
                                                                                                                ****

Monday, April 23, 2012

balikpapan night view

beginilah penampakan dari atas jembatan yang menghubungkan balikpapan plaza & hotel bahtera.

 salah satu sudut balikpapan baru
pemandangan malam dari melawai, salah satu pusat jajan warga balikpapan.

Tuesday, January 24, 2012

Pagi di Teluk Kendari



saya berniat memotret matahari terbit diteluk kendari, sejak saya tiba di kota lulo tersebut tapi apa daya, saya selalu kalah dengan mimpi yang bersemayam dilelap mata. dan pastinya saya sukses terbangun saat sinar hangatnya sudah menyentuh kulit.





namun saya percaya, semua punya waktu.
hingga disuatu pagi. pukul 6~ kurang banyak berhasil mengalahkan kantuk, sesaat sebelum raja hari mulai bersinar.
bergegas saya memacu mobil kearah pantai. Kendari Beach. KeBy, demikian warga Kendari menyebutnya.
rupanya saya memang tidak berjodoh dengan KeBy sunrise karena saat tiba disana tak ada lagi berkas jingga dilangit yang tersisa. tapi tak apa...tetap ada hal lain yang bisa "ditangkap"
tak membuang waktu lagi segera saya menjelajah keseluruh penjuru pantai. mematut komposisi, dan mulai merekam geliat pagi.

hampir tak ada jejak kehidupan malam yang tersisa, kecuali sampah-sampah plastik yang mengapung diair yang tenang dan tenda-tenda yang kosong melompong. padahal saat  senja turun, segera saja warung-warung tenda dan cafe pinggir jalan meramaikan kawasan ini. menjadikan tempat sebagai pusat gaul orang kendari.

tapi sepagi ini. sepi.jalanan pun lenggang. hanya satu dua sepeda motor yang melintas. perahu-perahu kayu pun hanya tertambat bisu. seakan ingin memberikan waktu kepada saya untuk meresapi kedamaian teluk kendari.

Tuesday, December 27, 2011

my first dive trip

Bermula dari pembicaraan tak berujung, saya akhirnya menerima tawaran seorang teman untuk belajar diving. Dan dari pembicaraan tak berawal pula, sang teman menawarkan untuk mencicipi surga menyelam bali. Tulamben.
“ini hanya ide, loe mau let’s go, loe g mw it’sok!” demikian racunnya, malam saat kami bertemu pertama kali.
Ide yang sangat menggiurkan. Kapan lagi ketulamben, diving dengan ahlinya. Demikian batin saya mencoba merayu akal sehat yang sangat labil.
Maka pada pertemuan keesokan harinya, saya mencoba mendiskusikan kemungkinan dive tulamben tersebut.
“terserah loe dho, tapi kalo oke, gw book tiket sekarang buat senin pagi!” katanya lagi
“ok.. Iet me think first, I’ll let you know first thing in the morning.” Gw berusaha tidak antusias.
And after I got home, I talk to my Mr.Affair. and you know what.?!
“don’t think about it, just do it.” He says “To much consideration will end up with nothing. Just go.” Well ternyata ini dukungan yang sangat menguatkan hati.
And  I only need I call to make it happen. “guru-padahal temen gw g mw dipanggil guru. ok ya senin pagi, shall I pick you up at the dive center or i just go straight to the airport?”
“go directly to the airport. I’ll handle everything from here!”
Monday morning, 6 am. i’m heading to the airport. Although I know that my plane will be boarding at 8.45. but never mind. I just can’t wait for more longer. Yayyayay
Ada  kejadian lucu, saat diruang tunggu, kami mendengarkan semua penumpang satu-persatu beranjak begitu mendengar panggilan boarding. Namun kami sama  sekali tidak mendengar panggilan untuk kami.  Setelah hamper setengah jam menunggu, kami lalu berkesimpulan bahwa pesawat kami ditunda. Hal yang biasa. Lalu diantara candaan dan omelan kami mendengar seorang petugas darat dari maskapai singa merah lalu-lalang sambil meneriakkan panggilan denpasar-denpasar,Surabaya-surabaya pintu 3. “Denpasar mas?” Tanya kami serentak memperjelas. “iya, pintu 3”jawabnya lagi sambil terus meneriakkan panggilan untuk penumpang lain.
Dengan semangat 45 kami segera berlari menuju pintu 3 dan menunggu bus yang akan membawa kami ke kaki burung besi yang rupanya sudah siap sejak tadi. “do you heard any boarding call?” I ask PG. “no.. do you?” he ask UQ to assure himself “tidak!”balas UQ dengan wajah tidak kalah heran. after we manage to find our seat, the three of us just smile to each other and start to make a joke over this small and unfunny accident.
 The sky is clear, the sun is shine what a nice flight, and with no delay 11:30 am we landed at ngurah rai international airport. Bli komang has been there with his paper sign. When we walk out the door carrying 3 big luggage. Each contain with a complete dive gear. Waiting to drive us to tulamben.
Saat kami meninggalkan airport, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Atas pertimbangan nurani, PG meminta bli komang untuk menuju daerah sanur, PG bermaksud untuk singgah di kantor pusat SSI, dan tentu saja untuk makan siang. Pilihannya adalah warung makan Woro Senang. A nice stall near Sanur just next to SSI hq.
Done with the lunch, now It’s time to 3 hour road trip to kubu tulamben. Actually PG ask me to sleep sepanjang perjalanan, because I will had my first class soon as we get there. Tapi ini bali, pemandangan sepanjang jalan membuat saya tidak bisa memejamkan mata. Rugi rasanya melewatkan suguhan bentang alam nan indah permai.
Perjalanan melalui kabupaten gianyar, klungkung dan karangasem, sepanjang kurang lebih 200km menjadi tidak membosankan. Pergantian lanskap pantai, bukit, perkampungan dengan sawah dan pura yang sambung menyambung mampu membuat mata tetap terbuka lebar.
Tak terasa, akhirnya sekitar pukul 3 sore, kami tiba di Paradise resort tulamben. Tempat dimana kami akan menginap selama 4 hari kedepan. Tanpa buang waktu, setelah membereskan urusan check in, PG,  instruktur saya langsung meminta saya untuk siap turun ke air.
so this it. time to unpack my dive gear. sebuah tas besar berwarna hitam, berisi 1 set BC. Regulator, Fins,Masker, Snorkle. dan wetsuit.
Ini kali pertama saya, sebelumnya saya hanya mendapat pelajaran perkenalan tentang alat. Teknik skill baru akan saya dapatkan di sesi ini. My first convenient water. Which also my first open water. Mengetahui kegelisahan saya, PG membesarkan hati saya dengan menjanjikan keindahan yang tak akan saya lupakan.
“Malu dunk.. udah sampe tulamben tapi nga nyicip open water.” Demikian sugesti saya pada diri sendiri Maka turunlah saya bersama Koko PG, my buddy sekaligus Instruktur saya. Pertama kali turun ke air dengan segala Peralatan scuba yang membalut tubuh, wetsuit, masker, bcd, nenteng fins… aduh jangan dikira, perasaan gw udah kayak dive  master. Walau diperut rasanya mulas. Nervous banget. Takut, penasaran, dan segala pikiran yang tak bertuan datang menghampiri. But at the end of the day, I start to feel. This is fun. This is cool. and I love it. Hahaha……………  and I knew that I just fall in love with this thing.  Praise the lord. I love Scuba, and I love tulamben.
and that is a wrap of my first dive story.................... 

Friday, December 23, 2011

going on travel.....

for me,going on vacation not only about having fun, but more like a step to learn the outside world. it's travelling.

so for me, one who never travel is a person who read book but can't understand the book. because there's a sense of knowledge when you blend with the persons, the place and mostly the experience being outsider who try to blend.
and to be honest it's enrich my point of view.

but what i like best from travelling, its about meeting new people, and getting new friends.

well.......... i can't hardly wait for my next trip.
i knew there's a lot stories to discovered, and plenty new friend that waiting somewhere out there....

Saturday, May 14, 2011

candid on boat





pergi berjalan-jalan memang terkadang kita menemui beberapa atau banyak hal yang tidak kita sangka.
salah satunya temuan saya dari perjalanan kemarin.
beberapa waktu yang lalu saya baru saja pergi ke kepulauan wakatobi. beberapa ratus kilo meter dari rumah saya. masih wilayah sulawesi tenggara.
karena tujuan awalnya adalah pulau buton, maka dari kendari saya harus menumpang kapal super jet ke kota bau-bau.

biar kata ini super jet, tetap saja waktu tempuh menyusuri teluk kendari dan menyambung selat buton terhitung cukup melelahkan. 3 jam -lebih beberapa belas atau puluh menit saya g pasti. xixixixi
terbayang betenya harus duduk di kabin yang tidak bisa disebut super nyaman. dengan guncangan ombak yang menghempas-hempas. daripada pusing terombang-ambing nga jelas saya memutuskan untuk naik ke dek atas.
dan olala.... u know what i've got.
bukan hanya langit biru, tempas angin, tapi juga dua mahluk mars yang tampak sangat mencolok diantara jejalan penumpang KMV. SUKSES GEMILANG.

so ladies.. kalo lagi jalan, sempatkan untuk selalu menikmati waktu dalam perjalanan, sesingkat, sekilat, seribet, sepusing apapun itu. who knows what you will got.


buat candid talent...
salam kenal ya....................

Saturday, December 11, 2010

Kenekatan Yang Bijaksana

Baru-baru saya mengikuti sebuah acara diving and photo camp. Disebuah pulau kecil digugusan kepulauan spermonde Makassar. Tepatnya di Pulau kodingareng keke. Namanya saja diving and photo camp. Jangan bayangkan akomodasi yang wah, apalagi fasilitas yang berlebihan. *maaf bapak ibu panitia bukannya mau complain. Hehehehe piss ko’…….. 
Diantara sekian banyak panitia dan peserta, ada satu yang sangat istimewa bagi saya. Kalau mau dibilang peserta bukan, tapi panitia pun nga juga. Hehehe…… ibu yang satu ini lebih tepatnya adalah salah satu sponsor acara. Tapi karena dia adalah pehobi selam jadi sekalian aja kali ya…… sponsor, panitia, peserta apa ajalah yang penting nyebur…………
Kenapa istimewa, karena ibu ini bisa jadi contoh untuk banyak ibu Rumah tangga yang bisa tetap enjoy menjalani hobi dan mengasuh anak pada saat yang sama. Mba Jovi. Nama ibu ini. Kebetulan punya posisi yang tinggi disebuah perusahaan telekomunikasi terbesar seindonesia. Pekerjaan yang sangat menyita Waktu dan pikiran menurut saya. Tapi di akhir pekan ternyata tetap bisa diisi dengan menjalani hobi Bersama putra-putrinya. Dan yang jadi nilai lebihnya bagi saya adalah karena ini kegiatan outdoor, disebuah pulau kecil tak berpenghuni, tanpa akomodasi dan fasilitas yang mewah ditambah lagi factor alam yang bisa saja berubah Setiap Waktu. Tess… si ibu ini tetap kekeuh memboyong bocah-bocah kecil itu. Hebat………………………
Diantara sekian banyak teman-teman yang sudah menikah dan kemudian punya anak, situasi ini sangat jarang saya temui. Karena umumnya mereka sudah ribet dengan segala urusan Rumah tangga dan anak-anak hingga hampir tidak bisa lagi menyempatkan diri untuk melakukan hobi terlebih melibatkan buah hati mereka. Segala macam prasangka menjadi alasan. Seperti keamanan, kenyamanan, kemudahan dan lain sebagainya. Yang ujung-ujungnya membuat mereka terkurung dengan rutinitas dan menurut saya mematikan sebuah bibit bernama kasih pada alam di diri anak-anak mereka.
Well………. Tidak semua orang memang memiliki kemampuan atau setidaknya pemikiran seperti si ibu ini. Tapi bagi saya ini satu cara yang positif dalam mengenalkan alam pada anak. Mengajari mereka tentang menikmati hidup “seadanya”. Mengajari mereka cara bersenang-senang tapi tetap peduli sekitar. Sungguh suatu hal yang sangat langka dari hari-hari belakangan ini. Dimana kebanyakan para orang tua –ibu khususnya, lebih memilih mal sebagai tempat liburan atau mengisi Waktu senggang dengan alasan “semua ada, lengkap, mudah dan pasti lebih nyaman”
Jujur, saya tidak mengenal mba Jovi secara personal, Cuma sepenggal-sepengal berita dari profil dimedia serta sebuah persinggungan singkat saat insiden mandi coboy. Hehehe………… Dan juga saya tidak memahami secara pasti alasan ibu ini memboyong para krucil tersebut. Tapi tetap saja, bagi saya ini sebuah kenekatan yang bijaksana. Kegilaan yang waras.
Untuk para ibu-ibu diluar sana, ayo jangan kungkung bocah-bocah itu dengan seribu alasan keegoisanmu. Biarkan mereka mengenal dan menikmati alam sejak dini. Biarkan mereka melatih kepekaan pada sekitar. Biar mereka tahu indah alam ini.

Tuesday, December 7, 2010

Empty Beach- Kodingareng Keke




inilah salah satu sudut pulau kodingareng keke. salah satu dari sekian banyak gugusan pulau-pulau spermonde.
buat yang suka "menyendiri", disini tempatnya.
hanya satu jam l jam lebih perjalanan kapal dari pelabuhan kayu bangkoa. cukup dekat, hingga kerlip-kerlip lampu kota metro makassar dimalam hari adalah pemandangan yang syahdu.
pulau kecil yang habis diputari selama 10 menit jalan kaki ini memang tidak memeberikan banyak pilihan. tapi pemuja laut pasti puas dengan air hijau yang bening mengantarkan mata pada hamparan karang dipantai yang molek.
dulu pernah dibangun beberapa rumah peristirahatan, tapi rupanya kini rumah-rumah panggung tersebut dibiarkan yang merana tanpa perawatan.
tapi jangan khawatir, bila ingin mengabiskan malam disana, bawa saja tenda, atau kalau ingin liburan yang lebih seru. cukup selembar matras, karena berbaring beralas bumi sembari menatap bintang-bintang yang gemerlap dan tentunya suara ombak yang tak lelah menghempas pasir adalah sebuah ara yang sempurna menikmati alam.
dan pastikan membawa cukup bekal air minum dan makanan karena pulau terdekat yang bisa disambangi adalah pulau kodingareng yang berjarak kurang lebih 30 menit laut.
hehehe........

Monday, November 8, 2010

a quick break with the londo

Setelah sekian lama merencanakan, saya akhirnya punya waktu untuk berlibur meski hanya setengah hari. Kemarin saya kedatangan tamu. Sepasang bule dari negeri belanda. Dari hasil omong-omong, ternyata mereka sudah berkeliling banyak tempat. Dan sasaran berikutnya adalah wakatobi. Pulau-pulau kecil nan indah diselatan Sulawesi tenggara. Surga baru para divers dunia. Karena itu, iseng saya menawari mereka untuk mencicipi sedikit beberapa spot menyelam yang ada dikolaka ini. Gayung bersambut. Mereka sangat antusias. Maka dengan gerakan cepat saya menghubungi sahabat baik saya yang juga hobi diving. Tapi rupanya, siteman tidak bisa membantu Karena saat itu ia sedang berada diluar kota, tapi ia memberikan solusi. Kalau hanya snorkeling ada beberapa teman lain yang siap sedia mencadangkan diri. Dan diputuskanlah bahwa besok pagi pukul 7, mereka menanti saya di pantai kaju angin. Rupanya mereka sudah ada disana sejak sore kemarin.
Karena situasi yang tidak memungkinkan bagi saya untuk melepas elsa dan olaf-kedua teman baru saya tersebut- pergi berdua, saya pun memutuskan untuk mengantar sendiri mereka ketempat janji bertemu. Kami berangkat, pukul 8 pagi, dengan asumsi 30 menit perjalanan maka kami punya Waktu setidaknya 3 jam sebelum tengah hari untuk menikmati laut.
Setiba disana, atas petunjuk siteman saya Mencari adi. Dia yang akan mengantar kami dengan perahu motornya ketanjung diseberang sungai, tempat teman-teman saya sudah menanti. Benar saja, begitu perahu merapat dipantai, Arsyi, salah seorang sahabat saya sudah siap menunggu saya. Ia lalu menggiring kami menuju ke sebuah cottage utama yang juga merupakan markas Kolaka Diving Club (K.D.C). disana, sudah menunggu dengan wajah penuh antusias, Bengky, Wawan Dawa, Oli, dan dua teman lain yang baru saya kenal saat itu.
Tidak perlu buang Waktu lama, setelah saya memperkenalkan elsa dan olaf pada sahabat-sahabat saya tersebut, kami semua kembali naik kekapal untuk menuju titik pertama. Karang Jauh. Dengan dipandu Bengky di Haluan, dan Oli sebagai juru mudi menggantikan Adi. Sepanjang jalan menuju lokasi pertama hanya saya, arsyi dan olaf yang saling bercerita, sementara elsa sibuk mengamati lautan dan pulau padamarang nun depan sana, yang lain hanya saling berdiam tenang. Bukan merekanya tak ingin bercerita, tetapi mereka terkendala bahasa. Olaf dan elsa londo yang bisa berbahasa prancis,spanyol, jerman dan italia, tapi mereka tidak bisa berbahasa Indonesia meski hanya sepatah kata. Dan sebaliknya teman-teman saya yang lain hanya memiliki 3 kosakata dalam bahasa inggris. Thank you, Yes dan No. wqkakkakak…………………………
Akhirnya setelah lima belas menit meniti ombak, dan berputar-putar Mencari spot yang ciamik, elsa,olaf, arsyi, bengky dan oli segera menceburkan diri keair. Awalnya, ketiga teman saya tampak mengawal dan memandu elsa dan olaf. Tapi kemudian setelah beberapa saat, mereka sepertinya sudah sangat sibuk dengan diri masing-masing. Hm…. I wonder how fascinating it is?
Menyaksikan mereka meliuk-liuk di antara karang didalam air yang begitu jernih, menimbulkan rasa penasaran yang begitu besar dihati saya. Tak tahan godaan, saya pun memberanikan diri untuk turun ke air. Dan u know what, seeing the coral under water, with the tinny little clown fish that swim around was really an amazing experience. Tapi karena saya baru pemula yang sangat amatir, saya tidak sanggup berlama-lama bermain didalam air. Selain karena arus yang cukup deras, saya belum terbiasa dengan snorkel. Hahaha………
Puas menjelajah karang jauh, kapal bergerak kearah pantai, yes selanjutnya kami berpindah kekarang kayu, tapi saya dan elsa memutuskan untuk tidak ikut nyemplung. Setelah menurunkan olaf, arsyi, oli,bengky, saya, elsa dan adi memutuskan untuk menuju pantai dan menunggu disana. Sambil mengawasi dari kejauhan, saya dan elsa menghabiskan Waktu dengan bercerita tentang segala hal, dari cerita pengalaman elsa dan olaf menjelajah amerika selatan hingga curhat saya tentang keputusan untuk tidak-belum menikah hingga saat ini. Hehehe…………
Setelah kami semua berkumpul lagi di pantai, saya yang penasaran menanyai dua penduduk gronigen ini tentang kesan-kesan mereka barusan. Maklum ini pengalaman pertama saya menjamu teman dari luar. Dan ternyata menurut mereka, pemandangan bawah laut kaju angin cukup baik. Walau dibeberapa titik-titik ada koral yang mati-akibat pengeboman, tapi secara keseluruhan “it’s beautiful” kata elsa dengan sungguh-sungguh. Species yang ditemui pun cukup beragam, ada brain coral dengan ukuran yang besar-besar, koral mangkok dengan ikan-ikan kecil yang lincah bermain didalamnya. tak lupa pastinya si Nemo yang rupanya sangat pemalu tapi mau juga menampakkan diri.
Tak terasa sudah hampir pukul 12. Karena kami berjanji untuk dijemput pukul setengah satu dipintu gerbang oleh supir Angkot yang saya carter. Maka kami pun bergegas, bersiap untuk pulang. Kembali ke kapal menyeberang selat sempit kedaratan. “you seem like knows the weather very well. It’s start raining now” kata olaf begitu kami sudah didalam mobil. Karena hujan perlahan mulai turun dan segera menderas begitu kami meninggalkan Tanjung yang indah itu. walau singkat tapi saya bisa melihat binar kepuasan dimata kedua teman saya itu. dan itu sangat berarti buat saya.
Hm….. what a nice quick break. And soon as I get home, I promise myself to get back, to try to really sank in the crystal clear water.

Monday, October 25, 2010

puncak mowewe





udara yang sejuk. kabut yang selalu menyelimuti.
mudah saja menikmatinya. cukup dengan secangkir teh manis. dan semangkuk mi siram.
hm........ menu yang sangat sederhana. tapi dengan suasana yang pas. saya pastikan ini akan menjadi suatu pengalaman tersendiri.
bila berkendara, melintasi kabupaten kolaka menuju ibukota provinsi kendari, mampirlah sejenak di puncak mowewe. kurang lebih 31 km arah timur selepas kota kolaka.
deretan warung-warung kopi ini selalu siaga 24 jam. menunggu anda yang mungkin ingin sekedar melepas lelah setelah menempuh panjangnya rute dengan kelokan yang bagai tiada habisnya.
ya.. cukup dengan secangkir teh manis.
puncak mowewe akan terasa lebih nikmat.