Showing posts with label Belajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar. Show all posts

Friday, January 18, 2013

Desire,Meaning

what do you want a meaning for?
life is a desire not a meaning.

Carlie Chaplin



Januari 11,2013

Tuesday, January 8, 2013

becak. a romantic ride

ilyapan.wordpress @Yudi Tirtajaya image
Have you considering becak as the most romantic vehicle?
I did.
Imagine, you were on it, while the bapak pedal along the way, the winds touch your face softly and the sunlight burn your skin. The cars, the motorcycles speeds around you, but you, instead of join the rush, the bapak keep calm,  stay in the constant power, ride safely. You have all your time to wonder, to revalue all the thing you see. The people chats on the side of the road, the kids running and play, the couple holding hands. Happy, sad, confused, frustration, angry, shy faces who were scattered in the corner of the street. the colors of the building, Ain’t that sweet? Isn’t romantic? 

All those things that you wouldn't notice if you were trapped in the crowded and heat of public bus, rush in your ride or even asleep in the comfort of your private car.
And that’s why i always love the becak. For sure i wont suggest it when you have to catch a flight, hurry for a emergency call although in some case the bapak can speed in terms of mengejar setoran, or for a fun action between them but that’s not an overall behave. More over, becak is an enviromental friendly vehicle, no need gasoline which means no pollution.
Ride the becak has always been joyful to me, there's a short movie played on the way ahead. i just have to sit, put my rayban on, take notice and enjoy the roll. Ain’t that cool, isn’t it romantic. 

januari 4,2013

Friday, October 26, 2012

Tiga budha.


Sitisewu 29 september 2012
Sabtu, 07,01am


Hari sudah cukup sore ketika saya tiba di kompleks candi mendut. Matahari masih terang namun terasa perlahan turun. Bangunan candi tunggal disebuah tanah lapang menerbitkan sejumlah tanya. Segera saja saya melangkah ke loket diluar pagar, membayar tiket senilai 3300 rupiah dan melanjutkan penjelajahan secara lebih seksama *tsah.. Dari bawah pohon beringin besar di sisi barat candi saya duduk-duduk sejenak sambil memikirkan apa yang melatari pembangunan candi ini. Tidak jua menemukan jawaban, saya pun mendekat dan meniti tangga naik kedalam candi. Di dalam ruang candi yang bisa dikatakan besar, dengan langit-langit tinggi terdapat tiga patung budha yang duduk dalam posisi yang berbeda. Memasukinya, saya di sergap aura ketenangan yang kuat. Seperti memasuki suatu waktu yang berbeda. Terkesiap memandangi keagungan sang budha, saya lalu membakar sebatang hio dan memanjatkan sebuah doa akan kebahagian dan umur panjang. saya memang bukan penganut budha, tetapi entah mengapa terkadang saya merasa bahwa saya adalah pengikut sang bodhisatva.
Menurut bapak yang bertugas menjaga diruang dalam candi, hampir setiap hari, ada saja umat budha yang datang dan bersembahyang di sini. Dari aroma hio yang terus menerus di kaki sang budha, saya pun bisa menyimpulkan demikian. Apalagi, didepan candi, ada sebuah vihara yang tidak bisa dikatakan kecil, berisi sebuah patung budha berlapis emas yang sedang berbaring. Bisa di pastikan, memang saat ini,kompleks candi mendut lebih difungsikan sebagai tempat ibadah ketimbang borobudur. Dimana saat prosesi waisak pun, perjalanan akan di mulai dari candi mendut ini, kemudian berjalan ke utara ke candi pawon dan akan berakhir di candi borobudur.
Kompleks candi mendut ini memang sangat kecil bila dibandingkan dengan borobudur. Hanya butuh kurang dari lima menit untuk berjalan mengitarinya.namun bila kita membutuhkan kontemplasi, maka ketiga budha yang telah duduk diam dalam keagungan sejak ribuan tahun yang lalu, bisa jadi penenang yang dahsyat.  AIDA
                                                        ****

Oleh-oleh dari Kotagede Part 2 ~ Stories from behind the wall

Salim Silver Workshop


Stories from behind the wall

Selama ini saya hanya mengenal legenda perak kotagede dari media. Sebagai sentra kerajinan perak terbesar di indonesia dan sejumlah ironi dibaliknya.
Entah sejak kapan awal pasti kemasyhuran kotagede sebagai industri perak, dimana dari berbagai cerita dikatakan sejak masa pangeran senopati. Namun demikian, menurut Priyo Salim, pemilik Salim silver yang juga adalah seorang pemerhati dan pelestari kerajinan perak, hal tersebut agak meragukan. Hal ini dikatakannya, bukan tanpa alasan, dikarenakan tidak adanya manuskrip dan data kongkrit serta barang bukti kerajinan perak dari masa tersebut.
Bila mengacu pada data sejarah, pada masa pemerintahan  Verskuir, gubernur hindia belanda untuk daerah Ngajogjakarta tahun 1930an bersama dengan J.E Jasper, didasari etika sistem politik praktis bahwa perlunya pengembangan sosial ekonomi pada daerah jajahan maka dimulailah pembinaan dan pengelolaan kerajinan perak di Kotagede demi menyuplai kebutuhan konsumsi di negara belanda. Hal ini kian berkembang takkala madame verskuir yang mempunyai citarasa seni tinggi, berinisiatif memberikan sentuhan jawa pada setiap produk. Sehingga kemudian perak asal kotagede dikenal dengan cirinya sendiri. Dan itu eropa menjadi pasar utama kriya ini.
Berlanjut pada era kekuasaan soekarno dan seoharto, pemerintahan lalu menetapkap produk perak sebagai cinderamata kenegaraan, dengan mengorder secara besar-besaran, yang mana ini hal terbukti membantu para perajin. Kejayaan perak kotagede kian melanglang buana, hingga kemudian datang krisis moneter pertama pada tahun 1996.
Harga dolar yang dari 2900 naik menjadi 15000 membuat pemerintah menghentikan order mereka,daya beli pasar dalam negeri pun secara nyata menurun. Namun kontra positifnya karena harga perak yang tadinya 400ribu perkilo gram menjadi 3 juta rupiah, membuat harga jual yang naik untuk pasar luar malah menguntungkan.  Lalu datang krisis 98, yang mana berdampak pada semua sektor termasuk menutup pintu ekspor dari berbagai komoditas dalam negeri. Hal ini mau tidak mau, memberikan hantaman telak pada produk-produk kriya indonesia termasuk perak.
Hilangnya pasar berarti berhentinya produksi dan pengurangan tenaga kerja. Seperti yang di beberkan oleh bapak Priyo, bila sebelumnya, bengkel miliknya mempunyai 60 orang karyawan, saat ini tersisa setengahnya saja. Angka yang cukup drastis, walau secara terus terang pun pak Priyo mengakui Salim silver bisa bertahan karena dukungan pembeli tetapnya dari luar.
Lalu apa peran pemerintah dalam dalam membantu para perajin? “Pemerintah bukannya tidak memberikan bantuan, bantuan alat telah beberapa kali diberikan, demikian juga pembinaan dan pelatihan, tetapi masalah terbesarnya adalah pasar”. Jelas pak Priyo panjang. Beliau pun mengatakan telah beberapa kali di ajak berpameran oleh pihak yang berwenang, bahkan hingga keluar negeri, tetapi itu saja belum cukup, Tandasnya.
“Jadi bukan karena tidak adanya minat para generasi muda untuk meneruskan kriya ini ya pak?” saya mengemukakan opini menurut keterangan yang saya dapat dari berbagai media. “Tidak.” Jawab beliau dengan lugas. “Meski begitu, saya tidak heran bila masyakat di luar berpendapat seperti itu. Karena pada kenyataannya, citra yang dibentuk sedemikian itu.” 

Oleh-oleh dari Kotagede





Gerbang Kotagede



Bapak Priyo Salim
Gerbang selamat datang di sentra kerajinan perak kotagede menyambut saya, saat memasuki jalan kemasan. Inilah pusat kerajinan perak yang terkenal di seantero indonesia bahkan hingga ke mancanegara. toko-toko yang menjajakan hasil kerajinan perak ini, berderet sepanjang jalan, menggoda mata dengan etalase yang memajang berbagai pernik dan ornamen cantik.
Terus berjalan, naik turun menyusuri pedestrian yang cukup nyaman, saya mendapati banyak papan penanda yang bertuliskan “kerajinan perak” namun kaki saya terus saja melangkah, seraya mengamati jajaran showroom tersebut. Hingga kemudian saya sampai pada sebuah pertigaan yang cukup sempit, dengan sebuah rumah besar bercat biru disudut jalan.  Tampaknya rumah ini telah lama ditinggalkan penghuninya, namun kesan megah tidak hilang begitu saja meski dalam kondisi tak terawat. ada sedikit keraguan apakah harus berbelok ke kiri atau lurus saja. Akhirnya saya berbelok kekiri, dan menemukan perbedaan yang cukup signifikan dari ruas jalan kemasan. ruas
 Dari depan tampak seperti sebuah gang yang agak menakutkan, tidak tampak ada sesuatu dibalik tembok-tembok tinggi yang gelap dan muram itu, namun kemudian sebuah pintu yang terbuka, dengan papan nama salim silver, seperti menarik saya untuk melongok lebih dalam. Benar saja, rupanya itu ada bengkel kerja pengrajin perak. Tetap seperti yang saya cari.
Sebagaimana adat berkunjung dalam budaya timur, kita harus memperkenalkan diri pada sang empunya rumah dan meminta izin sebelum memasuki rumah. Saya bertanya pada beberapa perajin yang tampak sibuk. Dan mereka menyaranka saya untuk langsung menemui pemilik workshop tersebut.
proses kerja
Tidak butuh proses yang panjang, ibu maryati, mempersilahkan saya untuk melihat secara langsung namun mengingatkan bahwa ini sudah hampir pukul 4, jam kerja hampir selesai. Tanpa membuang-buang masa, saya segera kembali ke bengkel yang berada di sisi pintu masuk. Disini tampak setiap orang asyik dengan pekerjaan mereka masing-masing. Setelah mengambil beberapa photo dan mengamati kesibukan mereka, saya kembali ke kantor dan bertemu langsung dengan pewaris sekaligus pemilik usaha kerajinan salim silver ini.
Priyo Salim, demikian pria paruh baya ini memperkenalkan diri, seraya mempersilahkan saya duduk di sofa panjang berwarna krem di salah satu sudut ruang kantor. Pak Priyo lalu menjelaskan proses pembuatan sebuah perhiasan atau ornamen perak. Acir, atau  perak mentah dilebur dan dicampur dengan tembaga atau platina karena pada dasarnya, perak mentah terlalu lunak untuk dapat dibentuk. Lalu kemudian di bentuk menjadi bentuk lempengan atau plepet dan tali atau urut, menurut tevak atau tipis plepet dan besar atau kecil urut. Dari proses ini kemudian barulah bisa lakukan pembentukan perhiasan sesuai yang kita kehendaki.
Salah satu teknik membentuk perak disebut filigri yaitu tali perak dibentuk menurut pola dan disusun hingga membentuk rangkaian yang dikehendaki. Dari beragam bentuk filigri ini nanti bisa dikembangkan menjadi banyak ornamen yang indah seperti bunga, hewan, dan berbagai ragam lainnya, namun juga bisa dikombinasikan dengan hasil ukiran dan pahatan.
proses kerja
Proses yang dilalui memang bisa dikatakan rumit dan cukup panjang, butuh ketelatenan dan sentuhan seni. Tidak salah bila kemudian banyak yang terpesona dan jatuh cinta pada keindahan perak, termasuk saya :D hingga saat menyambangi showroom Salim Silver yang terletak di jalan kemasan, saya terpaksa harus menahan hati menyaksikan semua perhiasan yang begitu menggoda iman. Meski demikian akhirnya saya memutuskan menghadiahkan pada diri sendiri sebuah pin filigri dari tembaga, yang saya yakin sangat cantik disematkan pada baju bodo-baju tradisional orang bugis saat menghadiri sebuah pesta pernikahan. 

Saturday, December 11, 2010

Kenekatan Yang Bijaksana

Baru-baru saya mengikuti sebuah acara diving and photo camp. Disebuah pulau kecil digugusan kepulauan spermonde Makassar. Tepatnya di Pulau kodingareng keke. Namanya saja diving and photo camp. Jangan bayangkan akomodasi yang wah, apalagi fasilitas yang berlebihan. *maaf bapak ibu panitia bukannya mau complain. Hehehehe piss ko’…….. 
Diantara sekian banyak panitia dan peserta, ada satu yang sangat istimewa bagi saya. Kalau mau dibilang peserta bukan, tapi panitia pun nga juga. Hehehe…… ibu yang satu ini lebih tepatnya adalah salah satu sponsor acara. Tapi karena dia adalah pehobi selam jadi sekalian aja kali ya…… sponsor, panitia, peserta apa ajalah yang penting nyebur…………
Kenapa istimewa, karena ibu ini bisa jadi contoh untuk banyak ibu Rumah tangga yang bisa tetap enjoy menjalani hobi dan mengasuh anak pada saat yang sama. Mba Jovi. Nama ibu ini. Kebetulan punya posisi yang tinggi disebuah perusahaan telekomunikasi terbesar seindonesia. Pekerjaan yang sangat menyita Waktu dan pikiran menurut saya. Tapi di akhir pekan ternyata tetap bisa diisi dengan menjalani hobi Bersama putra-putrinya. Dan yang jadi nilai lebihnya bagi saya adalah karena ini kegiatan outdoor, disebuah pulau kecil tak berpenghuni, tanpa akomodasi dan fasilitas yang mewah ditambah lagi factor alam yang bisa saja berubah Setiap Waktu. Tess… si ibu ini tetap kekeuh memboyong bocah-bocah kecil itu. Hebat………………………
Diantara sekian banyak teman-teman yang sudah menikah dan kemudian punya anak, situasi ini sangat jarang saya temui. Karena umumnya mereka sudah ribet dengan segala urusan Rumah tangga dan anak-anak hingga hampir tidak bisa lagi menyempatkan diri untuk melakukan hobi terlebih melibatkan buah hati mereka. Segala macam prasangka menjadi alasan. Seperti keamanan, kenyamanan, kemudahan dan lain sebagainya. Yang ujung-ujungnya membuat mereka terkurung dengan rutinitas dan menurut saya mematikan sebuah bibit bernama kasih pada alam di diri anak-anak mereka.
Well………. Tidak semua orang memang memiliki kemampuan atau setidaknya pemikiran seperti si ibu ini. Tapi bagi saya ini satu cara yang positif dalam mengenalkan alam pada anak. Mengajari mereka tentang menikmati hidup “seadanya”. Mengajari mereka cara bersenang-senang tapi tetap peduli sekitar. Sungguh suatu hal yang sangat langka dari hari-hari belakangan ini. Dimana kebanyakan para orang tua –ibu khususnya, lebih memilih mal sebagai tempat liburan atau mengisi Waktu senggang dengan alasan “semua ada, lengkap, mudah dan pasti lebih nyaman”
Jujur, saya tidak mengenal mba Jovi secara personal, Cuma sepenggal-sepengal berita dari profil dimedia serta sebuah persinggungan singkat saat insiden mandi coboy. Hehehe………… Dan juga saya tidak memahami secara pasti alasan ibu ini memboyong para krucil tersebut. Tapi tetap saja, bagi saya ini sebuah kenekatan yang bijaksana. Kegilaan yang waras.
Untuk para ibu-ibu diluar sana, ayo jangan kungkung bocah-bocah itu dengan seribu alasan keegoisanmu. Biarkan mereka mengenal dan menikmati alam sejak dini. Biarkan mereka melatih kepekaan pada sekitar. Biar mereka tahu indah alam ini.

the best methode : trial n error

Dulu sekali, seorang mantan bos yang juga pehobi foto menegaskan pada saya bahwa dalam fotografi kamera-yang hebat, hanyalah sebuah alat. Semua kembali pada orang yang mengeksekusi. Karena sebagus apapun kameranya, secantik apapun momentnya dan angle yang sempurna tapi tanpa teknik yang tepat maka hasilnya akan biasa saja. Hambar.
Dengan modal sebuah kamera bekas merek Canon. Saya bertekad untuk belajar fotografi secara serius. Karenanya saya pun memutuskan untuk berguru pada seorang teman yang punya profesi kang foto. Tapi siboz ini hanya memberikan sebuah wejangan yang sangat memicu semangat.
- Pertama-tama khatamin dulu bukaan lensa dan shutter speed.
- Kedua belajarlah dengan lighting
- Ketiga atau yang terakhir, dalami komposisi.

Hm…… sungguh suatu pelajaran yang berat.
Saya seorang otodidak sejati. Trial and error adalah metode terbaik saya.