Friday, April 26, 2013
cintamu
Bejana tangis dan lukisan yang muram.
Perempuan yang mencintaimu
tapi kau lebih mencintai dirimu
Friday, January 18, 2013
Desire,Meaning
what do you want a meaning for?
life is a desire not a meaning.
Carlie Chaplin
Januari 11,2013
life is a desire not a meaning.
Carlie Chaplin
Januari 11,2013
rindu pada
ke angkringan kitah.....
yang orang Jogja atau yang pernah ke Jogja pasti tau angkringan to....?
ada yang tau berapa banyak jumlah angkringan sak Jogja niki?
hahaha.. aku yakin ini sebuah soal yang cukup merepotkan. repot ngitung pastinya. :D
tapi biar gampang, bilang ajah seribuan. titik, nga perlu di ributin. kalau salah monggo di data sendiri. lebih dan kurangnya hanya yang kurang kerjaan yang akan tau pasti :P
eh tapi angkringan itu memang spesial Jogja ya...
nga nemu deh di tempat lain.
kalau aku sangat suka karena suasana santainya.
benar-benar sederhana. tetapi okeh......
meski menunya seragam, dan mungkin nga bisa di bilang istimewa sama sekali karena hampir semua angkringan menyajikan hal serupa. nasi kucing, gorengan, kopi, teh, es ketan, es jeruk.
namun memang sangat cocok buat menemani waktu ngobrol-ngobrol santai dengan teman atau juga pacar. uhuk....
rindu Jogja? atau rindu ngobrol ngalor-ngidul nga jelas?
silahkan ke angkringan terdekat.
![]() |
| @tololoe sketch&photo |
![]() |
| @tololoe sketch&photo |
Januari 9,2013
kakiku
Friday, January 11, 2013
surat - gombal untuk kekasihku
Kekasihku bukan lelaki tertampan sedunia
Tidak sedikitpun
Tak sepadan dengan pria-pria modis layar kaca
Tetapi senyumnya yang terpaling menghangatkan
Tetapi tatapannya yang terpaling memabukkan
Kekasihku kadang lucu kadang menggemaskan
Dan aku merindukannya selalu
Kekasihku pun kadang lugu dan kadang menyebalkan
Tetapi aku menyayanginya pasti
Kekasihku bermulut manis nan tajam, kata-katanya belati sekaligus madu
Hidungku mancung dan hidungmu angkuh katanya selalu
Dan aku menjadi meradang karenanya
Aku ini manusia seutuhnya dan kamu, kamu masih penuh dengan duniawi
Dan aku diam mencerna
Aku ini pencinta dan kamu pendamba
Kita tidak cocok ya.. Sayang
Dan aku tertawa, lebih karena jengkel
Kau itu batu, tetapi akulah lautanmu, katanya saat aku ngambek dan ia membujuk dengan kesongonggannya
Demikianlah kekasihku itu
Tetapi aku tahu dia mencintaiku, kekasihku yang menjengkelkan itu punya cinta seluas semesta
Tetapi aku sedih
Saat ini, ya saat aku menuliskan surat ini
kekasihku sakit dan aku tidak bisa membantunya merasa lebih baik
Hilang sudah segala kesombongannya berganti rengekan manja seorang bocah
Kekasihku itu kini seorang bocah lima tahun yang terbaring demam
Diam dalam kegelisahan dan kuyu dalam diam
Dan hati siapa yang tega melihat penderitaan yang tak terucapkan
Dan aku hanya bisa duduk terpaku, berdoa dalam gugup
Semoga kekasih segera sembuh
Semoga senyumnya segera kembali
Semoga kesombongannya segera menjajah hari-hariku
Demikianlah doa untuk kekasihku itu
Karena aku mencintainya dan kekasihku tau, cintaku selingkup raga dan rasa.
januari 7,2013
Wednesday, January 9, 2013
pagi di kamar mandi
![]() |
| photobucket @komuragi image |
percaya atau tidak, pagi hariku bisa sangat kacau bila harus bergegas ke kamar kecil.
saat yang indah untuk berlama-lama dalam gelungan selimut harus di akhiri atas nama detox.
dan sialnya lagi, ketika aku sudah merapatkan bokong pada dudukan toiket, aku teringat satu hal penting.
aku lupa membawa obat pelancar pup. sebatang rokok.
ya.. sebatang rokok, entah kenapa, aku merasa mengisap rokok sambil menanti moment pelepasan itu sangat melegakan. meski banyak yang bilang kebiasaanku itu sedikit menjijikkan, tapi aku suka. dan tidak ada argumen untuk itu.
jadi meski tidak selalu suka dengan kehebohan pagi dan drama kamar mandinya, tetapi kepungan asap cukup ampuh menyibukkan pikiranku, hingga usainya ritual pagiku.
januari 6,2013
dalam genggaman tangan
![]() |
| @web image |
Hampir senja, kala hujan menguyur, iramanya adagio, syahdu.
Sepasang kekasih duduk di tepi sebuah bangku jati panjang.
Sedikit menjauh dari jendela yang berkerai kayu.
Tangan mereka saling bertautan, menggenggam, meremas lembut.
Rindu, mereka menyatukan rindu yang berbulan terpisah jarak
Dalam diam yang hening
Dalam tatapan yang memeluk
Tangan mereka menyatu, sarat dengan rindu
Rindu yang tak habis-habisnya mereka bicarakan dalam genggaman dan jari-jari yang memilin.
januari 5,2013
Tuesday, January 8, 2013
becak. a romantic ride
![]() |
| ilyapan.wordpress @Yudi Tirtajaya image |
I did.
Imagine, you were on it, while the bapak pedal along the way, the winds touch your face softly and the sunlight burn your skin. The cars, the motorcycles speeds around you, but you, instead of join the rush, the bapak keep calm, stay in the constant power, ride safely. You have all your time to wonder, to revalue all the thing you see. The people chats on the side of the road, the kids running and play, the couple holding hands. Happy, sad, confused, frustration, angry, shy faces who were scattered in the corner of the street. the colors of the building, Ain’t that sweet? Isn’t romantic?
All those things that you wouldn't notice if you were trapped in the crowded and heat of public bus, rush in your ride or even asleep in the comfort of your private car.
And that’s why i always love the becak. For sure i wont suggest it when you have to catch a flight, hurry for a emergency call although in some case the bapak can speed in terms of mengejar setoran, or for a fun action between them but that’s not an overall behave. More over, becak is an enviromental friendly vehicle, no need gasoline which means no pollution.
Ride the becak has always been joyful to me, there's a short movie played on the way ahead. i just have to sit, put my rayban on, take notice and enjoy the roll. Ain’t that cool, isn’t it romantic.
januari 4,2013
pagi oh pagi dan apa yang mereka inginkan....
Bunyi roda kereta yang berlarian perlahan diatas rel, terdengar indah dan aku sangat menikmatinya. Aku melihat diriku ada di atas gerbongnya, menatap pohon-pohon, rumah-rumah, manusia-manusia bahkan mobil dan motor yang seakan berlarian mengejar waktu dari balik jendela kacanya. Sinar matahari yang belum terlalu terik menerobos disela-sela dedaunan, mengintip dibalik gedung-gedung yang tidak seberapa tinggi. Simfoni. Ini sebuah simfoni yang dimainkan manusia dan mesin yang tanpa mereka sadari mengalun dan mengisi ruang diantara mereka. Indah dan aku menikmatinya.
Tetapi aku tidak sedang menikmati itu semua dari atas gerbong sebuah kereta, aku disini, didalam kamarku. Hanya diam terbaring, terbangun oleh suara-suara kesibukan yang di buat oleh manusia-manusia lain yang sibuk mengejar waktunya masing-masing. Sejak matahari naik hingga turun lagi. Dengan simfoni yang hampir serupa namun dengan tempo yang berbeda. Sangat berbeda. Namun Bunyi roda kereta yang beradu di atas rel tidak pernah tidak nyata, suaranya lantang hingga ke kamarku yang kecil nan nyaman yang hanya berada beberapa meter dari sebuah stasiun kereta.
Masih didalam kamarku, masih berbaring diam, sayup percakapan-percakapan yang entah siapa, mengisi gendang telingaku, rupanya banyak hal yang menarik terjadi semalam, skor bola yang menyakitkan, kekalahan grup unggulan, janji temu yang digagalkan hujan, semuanya terjadi diantara pertukaran tawa. Apakah semua itu begitu membahagiakan? Maafkan bila aku tidak paham apa yang mereka perbincangkan, dan aku tidak akan pernah ingin tahu. Lamat-lamat suara-suara itu menghilang, diganti suara motor yang lalu lalang. Riuh, di jalanan yang juga tidak seberapa jauh dari kamarku ini. Dan segera kesadaranku menyatu.
Bisa kau bayangkan, betapa pagiku begitu ramai.
Terkadang aku berpikir, mereka, siapapun itu, sepertinya tidak ingin membiarkan aku melanjutkan tidur, melanjutkan mimpi-mimpi yang tertunda. Melanjutkan kenyamanan bergelung dalam selimutku yang berbau keringat namun menenangkan.
Mereka sungguh tidak ingin aku berlama-lama dalam buaian fajar, seperti bunyi alarm dari handphoneku yang mungil yang selalu aku setel pukul 5;30 pagi namun selalu pula berhasil aku abaikan dengan memencet tombol shut down. Sesaat, aku hilang dalam tidur diambang pagi hingga suara-suara itu membangunkanku. Mereka tidak ingin aku kehilangan pagi.
Sesungguhnya, andai saja mereka tahu, aku sangat menyukai pagi. Dengan segar udaranya, dengan dingin anginnya, dengan hembusan semangatnya, dengan kicau burung di ranting pepohonan, dengan wangi roti panggang dan seduhan kopinya. Aku bahkan jatuh cinta pada pagi, melebihi senja yang merona. Pagi adalah sebuah berkat. Yang selalu aku syukuri dalam lelap sekalipun. Dan rupanya ini yang tidak pernah mereka tahu. Tidak pernah!
Maka berkicaulah mereka di sepagi ini, dengan lagu mereka masing-masing. menggantikan merdu perkutut yang puas terawat dalam sangkar.
Dan aku, hanya bisa terbaring , diam, tanpa bisa mengerti apa yang mereka inginkan dariku.
sementara, di luar sana, jalanan kian riuh, dan kereta pagi yang ke barat dan ke timur perlahan beranjak menjauh.
januari 3, 2013
Tetapi aku tidak sedang menikmati itu semua dari atas gerbong sebuah kereta, aku disini, didalam kamarku. Hanya diam terbaring, terbangun oleh suara-suara kesibukan yang di buat oleh manusia-manusia lain yang sibuk mengejar waktunya masing-masing. Sejak matahari naik hingga turun lagi. Dengan simfoni yang hampir serupa namun dengan tempo yang berbeda. Sangat berbeda. Namun Bunyi roda kereta yang beradu di atas rel tidak pernah tidak nyata, suaranya lantang hingga ke kamarku yang kecil nan nyaman yang hanya berada beberapa meter dari sebuah stasiun kereta.
Masih didalam kamarku, masih berbaring diam, sayup percakapan-percakapan yang entah siapa, mengisi gendang telingaku, rupanya banyak hal yang menarik terjadi semalam, skor bola yang menyakitkan, kekalahan grup unggulan, janji temu yang digagalkan hujan, semuanya terjadi diantara pertukaran tawa. Apakah semua itu begitu membahagiakan? Maafkan bila aku tidak paham apa yang mereka perbincangkan, dan aku tidak akan pernah ingin tahu. Lamat-lamat suara-suara itu menghilang, diganti suara motor yang lalu lalang. Riuh, di jalanan yang juga tidak seberapa jauh dari kamarku ini. Dan segera kesadaranku menyatu.
Bisa kau bayangkan, betapa pagiku begitu ramai.
Terkadang aku berpikir, mereka, siapapun itu, sepertinya tidak ingin membiarkan aku melanjutkan tidur, melanjutkan mimpi-mimpi yang tertunda. Melanjutkan kenyamanan bergelung dalam selimutku yang berbau keringat namun menenangkan.
Mereka sungguh tidak ingin aku berlama-lama dalam buaian fajar, seperti bunyi alarm dari handphoneku yang mungil yang selalu aku setel pukul 5;30 pagi namun selalu pula berhasil aku abaikan dengan memencet tombol shut down. Sesaat, aku hilang dalam tidur diambang pagi hingga suara-suara itu membangunkanku. Mereka tidak ingin aku kehilangan pagi.
Sesungguhnya, andai saja mereka tahu, aku sangat menyukai pagi. Dengan segar udaranya, dengan dingin anginnya, dengan hembusan semangatnya, dengan kicau burung di ranting pepohonan, dengan wangi roti panggang dan seduhan kopinya. Aku bahkan jatuh cinta pada pagi, melebihi senja yang merona. Pagi adalah sebuah berkat. Yang selalu aku syukuri dalam lelap sekalipun. Dan rupanya ini yang tidak pernah mereka tahu. Tidak pernah!
Maka berkicaulah mereka di sepagi ini, dengan lagu mereka masing-masing. menggantikan merdu perkutut yang puas terawat dalam sangkar.
Dan aku, hanya bisa terbaring , diam, tanpa bisa mengerti apa yang mereka inginkan dariku.
sementara, di luar sana, jalanan kian riuh, dan kereta pagi yang ke barat dan ke timur perlahan beranjak menjauh.
januari 3, 2013
Monday, January 7, 2013
the comfort zone
Sebagian
besar orang yang aku kenal segera mempertanyakan kewarasanku saat aku
mengatakan bahwa aku ingin mengejar sebuah keinginan yang sejak lama aku
simpan. Pindah dan menetap di Yogya, belajar melukis dengan lebih serius, dan bekerja apapun demi menghidupi idealisme, meninggalkan
pekerjaan, dan kehangatan keluarga besarku di kota
kelahiranku, Kolaka, sebuah kota kecil di pantai barat jazirah Sulawesi
Tenggara. meninggalkan kenyamanan hidup menurut mereka. yes.. i'm leaving my comfort zone.
Mungkin
mereka tidak sepenuhnya salah, manusia memang punya kecenderungan untuk hidup
dalam zona aman, dalam skala mereka masing-masing, apapun itu.
Dan jujur, bukan hal yang mudah membulatkan tekad saat memutuskannya. banyak hal yang kemudian menghantui, seperti pertanyaan pada diri sendiri, apakah aku akan sanggup bertahan, tidak menyerah pada masalah kecil yang datang. tetapi berbagai kondisi pertimbangan, memantapkan langkahku. dan ketika kesempatan pertama datang, tidak pikir panjang lagi aku segera beranjak. pack my luggage, bought the one way ticket and get on the plane, i'm leaving the comfort zone.
now i'm out of the comfort zone, away, struggle alone.
yeah.. i miss it a little. just a little bit.
namun bila harus jujur, aku menemukan kenyamanan yang berbeda dari segala perasaan asing dan ketidaknyamanan yang ada. apapun itu.
and i'm eager to find what else could irritate and please me at the same time rather than the uncomfortness
Januari 2,2013
sebuah perjalanan
Bus melaju
perlahan, menjauhi terminal Giwangan, menembus hujan rintik yang segera
menderas, meninggalkan hiruk pikuk kemeriahan penyambutan datangnya Tahun Baru
yang bergema di seantero Yogya. Melankolik senja sudah hilang sejak tadi. Jauh.
Mungkin sebelum senja itu datang.
Bukan waktu
yang tepat sesungguhnya untuk menyambut tahun baru, karena bila menurut mauku,
aku ingin menghabiskan malam ini bulan ini, tahun ini dengan bergelung dalam
hangat rangkulan kekasihku di kamar kostku yang kecil di jantung Yogya.
Tetapi
terkadang sebuah perjalanan memanggil pada waktu yang tidak sesuai, pada hari
yang tidak direncanakan. Tidak memberikan pilihan. Aku hanya harus berada
disana, esok hari, demi sebuah janji temu. Seperti mengikuti angin. Tanpa tahu
apa yang akan terjadi. Angin. Aku si anak angin. Hanya mengalir, mengikuti
hembusannya.
Dan
disinilah aku, duduk menatap jalanan yang basah dan orang-orang yang entah
sibuk dengan apa dari jendela bus yang akan membawaku ke Barat. 512 km, 13 jam
perjalanan. Ke Jakarta.
Terkantuk-kantuk namun tidak rela terjaga, aku
larut pada silau lampu-lampu mobil dan lagu-lagu kenangan yang di kumandangkan
Grup Panbers dari speakers di dalam bus. Terasa terhibur, aku ikut
bersenandung. Lumayan mengusir kebosanan. Tertidur, terjaga, tertidur lagi dan
terjaga kembali. Entah berapa kali aku di permainkan waktu. Meski tidak
menyukai kenyataan itu, aku hanya bisa duduk diam. Meringkuk kikuk, sedikit
perlawanan pada ketidak nyamanan malam
dan perjalanan.
Matahari
baru saja akan naik saat, bus akhirnya memasuki kabupaten Karawang Jawa Barat,
sinar kemerahan yang mengintip menembus jendela bus, membangunkanku. Hujan
sudah lama berakhir, entah dimana. Habis, tanpa jejak. Perjalanan sudah
mendekati akhir. Geliat kesibukan orang-orang pinggiran Jakarta, sudah terasa. Tidak
ada waktu bersantai. Hidup yang sangat keras, harus di perjuangkan.
Meski masih
belum tahu apa yang akan Jakarta berikan padaku, tetapi setidaknya wajah-wajah
yang ku jumpai pagi itu menularkan semangat padaku.
Matahari
akan selalu bersinar pada waktunya. Meski hujan mendera, pada malam-malam yang
panjang dan dingin.
Dan yang
paling penting adalah, sebuah pertanda, bahwa di tahun yang baru ini, akan ada
banyak perjalanan, ke tempat yang baru dan tidak aku kenal, serta tak terduga
sekaIipun, akan ada langkah-langkah kecil dan besar yang akan mewarnai dan
memberi arti pada hidup yang lebih baik.
Selamat
datang tahun 2013.
Januari 1,2013
Friday, October 26, 2012
Tiga budha.
Sitisewu 29 september 2012
Sabtu, 07,01am
Hari sudah cukup sore ketika saya tiba di
kompleks candi mendut. Matahari masih terang namun terasa perlahan turun.
Bangunan candi tunggal disebuah tanah lapang menerbitkan sejumlah tanya. Segera
saja saya melangkah ke loket diluar pagar, membayar tiket senilai 3300 rupiah
dan melanjutkan penjelajahan secara lebih seksama *tsah.. Dari bawah pohon
beringin besar di sisi barat candi saya duduk-duduk sejenak sambil memikirkan
apa yang melatari pembangunan candi ini. Tidak jua menemukan jawaban, saya pun
mendekat dan meniti tangga naik kedalam candi. Di dalam ruang candi yang bisa
dikatakan besar, dengan langit-langit tinggi terdapat tiga patung budha yang
duduk dalam posisi yang berbeda. Memasukinya, saya di sergap aura ketenangan
yang kuat. Seperti memasuki suatu waktu yang berbeda. Terkesiap memandangi
keagungan sang budha, saya lalu membakar sebatang hio dan memanjatkan sebuah
doa akan kebahagian dan umur panjang. saya memang bukan penganut budha, tetapi
entah mengapa terkadang saya merasa bahwa saya adalah pengikut sang bodhisatva.
Menurut bapak yang bertugas menjaga
diruang dalam candi, hampir setiap hari, ada saja umat budha yang datang dan
bersembahyang di sini. Dari aroma hio yang terus menerus di kaki sang budha,
saya pun bisa menyimpulkan demikian. Apalagi, didepan candi, ada sebuah vihara
yang tidak bisa dikatakan kecil, berisi sebuah patung budha berlapis emas yang
sedang berbaring. Bisa di pastikan, memang saat ini,kompleks candi mendut lebih
difungsikan sebagai tempat ibadah ketimbang borobudur. Dimana saat prosesi
waisak pun, perjalanan akan di mulai dari candi mendut ini, kemudian berjalan
ke utara ke candi pawon dan akan berakhir di candi borobudur.
Kompleks candi mendut ini memang sangat
kecil bila dibandingkan dengan borobudur. Hanya butuh kurang dari lima menit
untuk berjalan mengitarinya.namun bila kita membutuhkan kontemplasi, maka
ketiga budha yang telah duduk diam dalam keagungan sejak ribuan tahun yang
lalu, bisa jadi penenang yang dahsyat. AIDA
****
Oleh-oleh dari Kotagede Part 2 ~ Stories from behind the wall
| Salim Silver Workshop |
Stories from behind the wall
Selama ini saya hanya mengenal legenda
perak kotagede dari media. Sebagai sentra kerajinan perak terbesar di indonesia
dan sejumlah ironi dibaliknya.
Entah sejak kapan awal pasti kemasyhuran
kotagede sebagai industri perak, dimana dari berbagai cerita dikatakan sejak
masa pangeran senopati. Namun demikian, menurut Priyo Salim, pemilik Salim
silver yang juga adalah seorang pemerhati dan pelestari kerajinan perak, hal
tersebut agak meragukan. Hal ini dikatakannya, bukan tanpa alasan, dikarenakan
tidak adanya manuskrip dan data kongkrit serta barang bukti kerajinan perak
dari masa tersebut.
Bila mengacu pada data sejarah, pada masa
pemerintahan Verskuir, gubernur hindia
belanda untuk daerah Ngajogjakarta tahun 1930an bersama dengan J.E Jasper,
didasari etika sistem politik praktis bahwa perlunya pengembangan sosial
ekonomi pada daerah jajahan maka dimulailah pembinaan dan pengelolaan kerajinan
perak di Kotagede demi menyuplai kebutuhan konsumsi di negara belanda. Hal ini
kian berkembang takkala madame verskuir yang mempunyai citarasa seni tinggi,
berinisiatif memberikan sentuhan jawa pada setiap produk. Sehingga kemudian
perak asal kotagede dikenal dengan cirinya sendiri. Dan itu eropa menjadi pasar
utama kriya ini.
Berlanjut pada era kekuasaan soekarno dan
seoharto, pemerintahan lalu menetapkap produk perak sebagai cinderamata
kenegaraan, dengan mengorder secara besar-besaran, yang mana ini hal terbukti
membantu para perajin. Kejayaan perak kotagede kian melanglang buana, hingga
kemudian datang krisis moneter pertama pada tahun 1996.
Harga dolar yang dari 2900 naik menjadi
15000 membuat pemerintah menghentikan order mereka,daya beli pasar dalam negeri
pun secara nyata menurun. Namun kontra positifnya karena harga perak yang
tadinya 400ribu perkilo gram menjadi 3 juta rupiah, membuat harga jual yang
naik untuk pasar luar malah menguntungkan.
Lalu datang krisis 98, yang mana berdampak pada semua sektor termasuk
menutup pintu ekspor dari berbagai komoditas dalam negeri. Hal ini mau tidak
mau, memberikan hantaman telak pada produk-produk kriya indonesia termasuk
perak.
Hilangnya pasar berarti berhentinya
produksi dan pengurangan tenaga kerja. Seperti yang di beberkan oleh bapak
Priyo, bila sebelumnya, bengkel miliknya mempunyai 60 orang karyawan, saat ini
tersisa setengahnya saja. Angka yang cukup drastis, walau secara terus terang
pun pak Priyo mengakui Salim silver bisa bertahan karena dukungan pembeli
tetapnya dari luar.
Lalu apa peran pemerintah dalam dalam
membantu para perajin? “Pemerintah bukannya tidak memberikan bantuan, bantuan
alat telah beberapa kali diberikan, demikian juga pembinaan dan pelatihan,
tetapi masalah terbesarnya adalah pasar”. Jelas pak Priyo panjang. Beliau pun
mengatakan telah beberapa kali di ajak berpameran oleh pihak yang berwenang,
bahkan hingga keluar negeri, tetapi itu saja belum cukup, Tandasnya.
“Jadi bukan karena tidak adanya minat para
generasi muda untuk meneruskan kriya ini ya pak?” saya mengemukakan opini
menurut keterangan yang saya dapat dari berbagai media. “Tidak.” Jawab beliau
dengan lugas. “Meski begitu, saya tidak heran bila masyakat di luar berpendapat
seperti itu. Karena pada kenyataannya, citra yang dibentuk sedemikian itu.”
Oleh-oleh dari Kotagede
| Gerbang Kotagede |
| Bapak Priyo Salim |
Gerbang selamat datang di sentra kerajinan
perak kotagede menyambut saya, saat memasuki jalan kemasan. Inilah pusat
kerajinan perak yang terkenal di seantero indonesia bahkan hingga ke
mancanegara. toko-toko yang menjajakan hasil kerajinan perak ini, berderet
sepanjang jalan, menggoda mata dengan etalase yang memajang berbagai pernik dan
ornamen cantik.
Dari depan tampak seperti sebuah gang yang
agak menakutkan, tidak tampak ada sesuatu dibalik tembok-tembok tinggi yang
gelap dan muram itu, namun kemudian sebuah pintu yang terbuka, dengan papan
nama salim silver, seperti menarik saya untuk melongok lebih dalam. Benar saja,
rupanya itu ada bengkel kerja pengrajin perak. Tetap seperti yang saya cari.
Sebagaimana adat berkunjung dalam budaya
timur, kita harus memperkenalkan diri pada sang empunya rumah dan meminta izin
sebelum memasuki rumah. Saya bertanya pada beberapa perajin yang tampak sibuk.
Dan mereka menyaranka saya untuk langsung menemui pemilik workshop tersebut.
| proses kerja |
Tidak butuh proses yang panjang, ibu
maryati, mempersilahkan saya untuk melihat secara langsung namun mengingatkan
bahwa ini sudah hampir pukul 4, jam kerja hampir selesai. Tanpa membuang-buang
masa, saya segera kembali ke bengkel yang berada di sisi pintu masuk. Disini
tampak setiap orang asyik dengan pekerjaan mereka masing-masing. Setelah
mengambil beberapa photo dan mengamati kesibukan mereka, saya kembali ke kantor
dan bertemu langsung dengan pewaris sekaligus pemilik usaha kerajinan salim
silver ini.
Salah satu teknik membentuk perak disebut
filigri yaitu tali perak dibentuk menurut pola dan disusun hingga membentuk
rangkaian yang dikehendaki. Dari beragam bentuk filigri ini nanti bisa
dikembangkan menjadi banyak ornamen yang indah seperti bunga, hewan, dan
berbagai ragam lainnya, namun juga bisa dikombinasikan dengan hasil ukiran dan
pahatan.
| proses kerja |
Proses yang dilalui memang bisa dikatakan
rumit dan cukup panjang, butuh ketelatenan dan sentuhan seni. Tidak salah bila
kemudian banyak yang terpesona dan jatuh cinta pada keindahan perak, termasuk
saya :D hingga saat menyambangi showroom Salim Silver yang terletak di jalan kemasan,
saya terpaksa harus menahan hati menyaksikan semua perhiasan yang begitu
menggoda iman. Meski demikian akhirnya saya memutuskan menghadiahkan pada diri
sendiri sebuah pin filigri dari tembaga, yang saya yakin sangat cantik
disematkan pada baju bodo-baju tradisional orang bugis saat menghadiri sebuah
pesta pernikahan.
HANGOUT & PLAY
Sitisewu 25 September 2012
Selasa 12,07pm
| pengenjung sebuah cafe yang asyik bermain kartu |
Selama berada di jogja ini, saya
menyempatkan diri untuk hangout di tempat-tempat tongkrongan anak muda jogja
yang cukup populer. Tentu saja saya menemui keadaan yang cukup semarak, tapi
suasana santai sangat terasa.
Kedati demikian ada satu hal yang menjadi
perhatian saya. Hampir disemua tempat-tempat gaul tersebut saya melihat sebuah
keunikan. Orang-orang bermain kartu, ya kartu remi. Entah para lelaki atau para
gadis-gadisnya.
Bagi saya, ini sungguh menerbitkan
keheranan, karena di tempat asal saya, kartu remi, atau gaple hanya di mainkan
di pos ronda, oleh para pria-pria sebagai permainan melewatkan waktu menanti
pagi. Atau sebuah permainan yang kemudian di tunggangi oleh unsur strategi demi
rupiah, dan digelar dalam ruang tertutup nan rahasia.
Mungkin secara umum, ini berarti hal yang
sama. Tetapi ketika anak muda jogja memainkannya di cafe, yang selama ini saya
tau punya kelas di mata sebagian orang, maka mau tidak mau membuat saya
memaknainya secara berbeda. Sedemikian sempitkah ruang bermain mereka hingga
merasa syah-syah saja membawanya ruang publik? Atau sedemikian luasnya mereka
melihat ruang publik hingga bisa menerima segala bentuk permainan? Entahlah..
Saya hanya beropini, tanpa maksud menilai terlebih menjudge. Meski sejujurnya,
kartu remi atau gaple, dimainkan dalam konteks apapun memang mengasyikkan.
Hayuk.. Di bagi kartunya.. ☺
AIDA
****
Friday, July 27, 2012
playing with colors
bila hidup tiba-tiba memberikan kejutan indah, pasti senangnya tidak terkira...
belakangan ini, aku sangat asyik bermain dengan warna.
aku nyeket, aku nggambar dan aku ngelukis.
rasanya sungguh menggembirakan.
aku merasa seperti kanak-kanak yang diberi mainan, terlupa, melupakan semua yang nyata.
meski sesungguhnya, ini bukan hal yang baru, aku memang suka menggambar, meski kemudian hasilnya adalah "abstrak" hahaha.
namun belakangan ini, aku sepertinya lebih konsen melakukan hal ini.
setiap hari pasti meluangkan waktu, menyempatkan diri.
i even fall asleep with those stuff. pencil, and papers and brush.
terkadang aku tidak mementingkan hasil, tetapi proses aku membaca lingkungan, suasana dan kemudian menerjemahkannya diatas kertas atau canvas.
sangat nikmat.
tarikan garis, polesan warna itu sungguh membahagiakan buatku.
aku merasa seperti berada di dunia yang hanya bisa ku mengerti sendiri, sepi namun penuh hingar bingar nyanyian warna.
i play with pencil
i play with watercolor
i play with acrylic
i play with oil
i play with colors
another passion in my life.
belakangan ini, aku sangat asyik bermain dengan warna.
aku nyeket, aku nggambar dan aku ngelukis.
rasanya sungguh menggembirakan.
aku merasa seperti kanak-kanak yang diberi mainan, terlupa, melupakan semua yang nyata.
meski sesungguhnya, ini bukan hal yang baru, aku memang suka menggambar, meski kemudian hasilnya adalah "abstrak" hahaha.
namun belakangan ini, aku sepertinya lebih konsen melakukan hal ini.
setiap hari pasti meluangkan waktu, menyempatkan diri.
i even fall asleep with those stuff. pencil, and papers and brush.
terkadang aku tidak mementingkan hasil, tetapi proses aku membaca lingkungan, suasana dan kemudian menerjemahkannya diatas kertas atau canvas.
sangat nikmat.
tarikan garis, polesan warna itu sungguh membahagiakan buatku.
aku merasa seperti berada di dunia yang hanya bisa ku mengerti sendiri, sepi namun penuh hingar bingar nyanyian warna.
i play with pencil
i play with watercolor
i play with acrylic
i play with oil
i play with colors
another passion in my life.
Subscribe to:
Posts (Atom)







