Tuesday, January 8, 2013

pagi oh pagi dan apa yang mereka inginkan....

Bunyi roda kereta yang berlarian perlahan diatas rel, terdengar indah dan aku sangat menikmatinya. Aku melihat diriku ada di atas gerbongnya, menatap pohon-pohon, rumah-rumah, manusia-manusia bahkan mobil dan motor yang seakan berlarian mengejar waktu dari balik jendela kacanya. Sinar matahari yang belum terlalu terik menerobos disela-sela dedaunan, mengintip dibalik gedung-gedung yang tidak seberapa tinggi. Simfoni. Ini sebuah simfoni yang dimainkan manusia dan mesin yang tanpa mereka sadari mengalun dan mengisi ruang diantara mereka. Indah dan aku menikmatinya. 
Tetapi aku tidak sedang menikmati itu semua dari atas gerbong sebuah kereta, aku disini, didalam kamarku. Hanya diam terbaring, terbangun oleh suara-suara kesibukan yang di buat oleh manusia-manusia lain yang sibuk mengejar waktunya masing-masing. Sejak matahari naik hingga turun lagi. Dengan simfoni yang hampir serupa namun dengan tempo yang berbeda. Sangat berbeda. Namun Bunyi roda kereta yang beradu di atas rel tidak pernah tidak nyata, suaranya lantang hingga ke kamarku yang kecil nan nyaman yang hanya berada beberapa meter dari sebuah stasiun kereta.
Masih didalam kamarku, masih berbaring diam, sayup percakapan-percakapan yang entah siapa, mengisi gendang telingaku, rupanya banyak hal yang menarik terjadi semalam, skor bola yang menyakitkan, kekalahan grup unggulan, janji temu yang digagalkan hujan, semuanya terjadi diantara pertukaran tawa. Apakah semua itu begitu membahagiakan? Maafkan bila aku tidak paham apa yang mereka perbincangkan, dan aku tidak akan pernah ingin tahu. Lamat-lamat suara-suara itu menghilang, diganti suara motor yang lalu lalang. Riuh, di jalanan yang juga tidak seberapa jauh dari kamarku ini. Dan segera kesadaranku menyatu.
Bisa kau bayangkan, betapa pagiku begitu ramai.
Terkadang aku berpikir, mereka, siapapun itu, sepertinya tidak ingin membiarkan aku melanjutkan tidur, melanjutkan mimpi-mimpi yang tertunda. Melanjutkan kenyamanan bergelung dalam selimutku yang berbau keringat namun menenangkan.
Mereka sungguh tidak ingin aku berlama-lama dalam buaian fajar, seperti bunyi alarm dari handphoneku yang mungil yang selalu aku setel pukul 5;30 pagi namun selalu pula berhasil aku abaikan dengan memencet tombol shut down. Sesaat, aku hilang dalam tidur diambang pagi hingga suara-suara itu membangunkanku. Mereka tidak ingin aku kehilangan pagi.
Sesungguhnya, andai saja mereka tahu, aku sangat menyukai pagi. Dengan segar udaranya, dengan dingin anginnya, dengan hembusan semangatnya, dengan kicau burung di ranting pepohonan, dengan wangi roti panggang dan seduhan kopinya. Aku bahkan jatuh cinta pada pagi, melebihi senja yang merona. Pagi adalah sebuah berkat. Yang selalu aku syukuri dalam lelap sekalipun. Dan rupanya ini yang tidak pernah mereka tahu. Tidak pernah!
Maka berkicaulah mereka di sepagi ini, dengan lagu mereka masing-masing. menggantikan merdu perkutut yang puas terawat dalam sangkar.
Dan aku, hanya bisa terbaring , diam, tanpa bisa mengerti apa yang mereka inginkan dariku.
sementara, di luar sana, jalanan kian riuh, dan kereta pagi yang ke barat dan ke timur perlahan beranjak menjauh.



januari 3, 2013

No comments: